Gagasan pembangunan jembatan yang menghubungkan Surabaya dan Madura sudah
berusia lebih dari 60 tahun. Sebuah versi mencatat bahwa gagasan ini pertama
kali disampaikan oleh H. M. Noer saat masih menjabat sebagai Bupati Bangkalan di
tahun 50-an. Gagasan tersebut menjadi lebih nyata saat konsep Tri Nusa Bima
Sakti dirumuskan oleh Prof. Sedyatmo dan didorong melalui kebijakan pemerintah
sejak 1986. Pembangunan jembatan dinilai strategis untuk membuka keterisolasian
Madura yang dinilai sebagai akar permasalahan tertinggalnya perekonomian Madura
dibanding daerah lainnya di Jawa Timur serta dapat memicu pertumbuhan ekonomi di
wilayah Madura. Industrialisasi di Madura yang dijadikan satu paket dengan
pembangunan jembatan diproyeksi dapat menjadi solusi elegan yang menguntungkan
kawasan GERBANGKERTOSUSILA. Diharapkan, keterbatasan industri di wilayah
GERBANGKERTOSUSILA minus Bangkalan dapat dicover oleh lahan kurang produktif
yang cukup luas ada di Madura. Industrialisasi diharapkan dapat menciptakan
banyak lapangan kerja dan menimbulkan efek multiplier yang dapat memacu
akselerasi pertumbuhan ekonomi seluruh kawasan pada umumnya dan Madura pada
khususnya.
Hingga kini, setelah 3 tahun jembatan beroperasi, berbagai kendala teknis
maupun non teknis menjadikan industrialisasi masih berada di dalam tataran
konsep dan rencana. Sehingga kemakmuran dan peningkatan taraf ekonomi masyarakat
Madura yang diharap-harapkan masih belum dirasakan secara signifikan. Sampai
saat ini, dari lima daerah tingkat dua yang masuk dalam kategori tertinggal,
tiga diantaranya adalah Bangkalan, Sampang dan Pamekasan. PDRB empat kabupaten
di Madura berada di bawah PDRB mayoritas daerah lain di Jawa Timur maupun PDRB
propinsi. Index pembangunan manusia di empat kabupaten di Madura juga menempati
posisi-posisi terbawah. Ironisnya, topik khusus mengenai industrialisasi dari
berbagai aspek mengalami penurunan intensitas (Hartarto, 2004) padahal realisasi
industrialisasi di Madura sudah di ambang pintu. Sehingga diskusi tentang
pemikiran-pemikiran, konsep ataupun best practice yang dapat digunakan
untuk membantu formulasi kebijakan industrialisasi di Madura perlu diintensifkan
lagi.
Oleh karena itu, Laboratorium Sistem Manufaktur – Program Studi
Teknik Industri – Universitas Trunojoyo Madura menyelenggarakan Seminar Nasional
dengan tema ” Pengembangan kawasan industri dan sistem inovasi
yang berkelanjutan untuk peningkatan daya saing regional: riset, konsep,
pemikiran dan best practice dalam menyongsong industrialisasi di Madura
”
Sebagai catatan tambahan, meskipun terlilit banyak masalah kesejahteraan,
Madura memiliki segudang potensi. Sebut saja pariwisata berbasis tradisi dan
kekayaan lokal, beberapa sumber daya alam serta produk-produk unik khas Madura
semisal Jamu dan Batik Madura yang sangat terkenal itu. Industrialisasi yang
dihartapkan tentu saja bukan industrialisasi yang akan mengikis kekayaan lokal
tersebut tetapi yang mampu mendorong dan bersinergi dengannya. Menjadi tantangan
untuk para pengambil kebijakan dan akademisi untuk mensinergikan industrialisasi
dengan pemberdayaan Usaha Kecil dan Menengah (UKM) yang merupakan 98% lebih dari
keseluruhan entitas bisnis di Madura. Tantangan ini menjadi semakin kompleks
karena Madura bukanlah kawasan yang relatif tidak berpenghuni sebagaimana Batam
di awal-awal masa pembangunannya.
Di sisi lain, panitia menyadari bahwa pembahasan topik industrialisasi masih
didominasi oleh praktisi dan akademisi dari rumpun disiplin keilmuan ekonomi,
perencanaan wilayah serta ilmu-ilmu sosial lainnya. Kontras dengan hal tersebut,
disiplin keilmuan Teknik Industri maupun disiplin keilmuan eksakta lainnya masih
kurang intensif dalam memberikan sumbangsih keahlian dan profesinya di dalam
topik ini. Padahal sebenarnya dapat digali dari berbagai model, kerangka kerja
serta pendekatan disiplin keilmua Teknik yang bisa digunakan semisal metode
simulasi, teknik optimisasi, analisis multivariate, penilaian kinerja, project
planning, supply chain, manajemen teknologi, manajemen inovasi, sistem inovasi
daerah maupun berbagai kompetensi yang lain yang relevan.
Hal ini sangat sejalan dengan perkembangan paradigma pembangunan saat ini
yang diarahkan untuk lebih berbasis pada knowledge. Dalam paradigma itu,
kekayaan suatu bangsa atau wilayah tidak lagi dapat diukur dari kekayaan sumber
daya alam dan jumlah penduduknya semata. Berbagai riset dan kajian telah
menunjukkan bahwa terdapat korelasi yang sangat kuat antara kemampuan penguasaan
iptek suatu bangsa dengan kesejahteraan dan kemakmuran warganya. Oleh karena
itu, usaha pembangunan ekonomi tidak lagi bisa dijalankan secara apa adanya,
tetapi diperlukan berbagai terobosan paradigmatik maupun praktek pembangunan
yang berbasis pada utilisasi iptek secara optimal. Seiring dengan itu, semakin
disadari oleh banyak pihak bahwa Indonesia perlu melakukan percepatan dan
perluasan pembangunan yang dilaksanakan secara sistematis dan berkelanjutan.
Terkait dengan hal ini, pemerintah telah menyusun suatu master plan
pembangunan nasional di dalam dokumen Master Plan Percepatan dan Perluasan
Pembangunan Ekonomi Indonesia (MP3EI) yang dikukuhkan di dalam Perpres
Nomor 32 Tahun 2011. Dengan kerangka tersebut, diharapkan bahwa Indonesia dapat
menjadi negara maju pada tahun 2025 yang dengan cita-cita mulia bahwa negara
dapat menjamin peningkatan dan pemerataan kesejahteraan bagi warganya. Ini tentu
saja sangat relevan dengan kondisi Madura yang memerlukan percepatan, perluasan
serta pemerataan pembangunan yang mampu menjamin peningkatan kesejahteraan yang
berkelanjutan.
Oleh karena itu, selain seminar dengan berbagai pembicara yang ahli di bidang
industrialisasi serta pengembangan sistem inovasi wilayah,
diselenggarakan pula seminar Call for Paper untuk merangsang
diskursus serta aplikasi disiplin keilmuan eksakta pada umumnya dan disiplin
keilmuan Teknik Industri pada khususnya. Diharapkan dapat dihimpun
berbagai ide, konsep, hasil kajian ataupun best practice yang secara langsung
maupun tidak langsung dapat digunakan sebagai acuan pembelajaran dan pembanding
menyongsong dilaksanakannya industrialisasi di Madura yang mampu meningkatkan
dan memeratakan kesejahteraan bagi Indonesia pada umumnya Madura pada
khususnya.
